雪 ; snow


Ini tahun ke tujuh bagi Hanna merayakan ulang tahunnya dalam kesendirian. Ditempat yang sama dengan suasana hati yang sedikit lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. 


Salju turun lebih banyak hari ini. Di luar tampak seperti dunia peri, semua serba putih berbalut salju. Temaram lampu jalan berwarna oren membuat suasana tampak lebih hangat. Hanna senang. Ia menyukai salju. Ia suka saat dingin udara menyapa wajahnya, ia suka tawa anak-anak di sekitarnya yang bahagia sembari bermain dengan salju,ia suka saat salju turun kemudian ikut menyelimuti tubuhnya. Apalagi ketika dingin malam dan lembut salju menerpa, menenangkannya, memberikan perasaan nyaman dan sejuk. Hanna suka itu. Namun untuk malam ini, malam dihari ulang tahunnya, ia memilih untuk berlindung di dalam coffee shop sambil menikmati dua menu favorit untuk perayaan hari bahagianya.


a slice of cheesecake and a cup of latte.


Hari ini juga bekerja lebih keras daripada hari-hari biasanya. Mengeluarkan tenaga lebih banyak karena kakaknya sedikit rewel ditambah perlu untuk bertemu banyak orang karena mengambil rapor sang adik — benar, Hanna kurang senang untuk berada di keramaian, lebih memilih untuk duduk di bangku pojok dan menyendiri saat menunggu antrian rapor yang dibagikan, memilih untuk mengurung diri di kamar entah membaca buku atau melukis sebagai bentuk recharge tenaganya. Itu saja. Hanna cukup dengan dirinya sendiri.


Sang kakak, Andita mengalami gangguan kejiwaan setelah ayah meninggal karena kecelakaan bus yang sedang ditumpangi dalam perjalanan menjemputnya saat pulang usai hari pertama bekerja. Hari itu hujan lebat dan ayah tak mengizinkan putri sulungnya untuk pulang sendirian. Merasa terpukul dan bersalah pada saat yang bersamaan, hingga saat ini masih sering merutuki dan menyumpahi diri sendiri. Semua bersedih, tapi kata ibu 'hidup harus terus berjalan'. Maka itulah yang terus menjadi alasan Hanna tetap bertahan. Walau kadang kenyataan hidup senang untuk bercanda, senang untuk menjahilinyasampai terjatuh dan luka hingga membuatnya tertatih. 


Hanna menatap arlojinya, pukul 20:39. Suhu udara di luar semakin rendah, orang-orang diluar nampak mengencangkan syal dan merapatkan coatnya sembari berjalan dengan tergesa. Mungkin ingin segera tiba di rumah, tak sabar untuk membaringkan badan dan lelap dalam tidur. Berbeda dengan Hanna yang tengah menikmati waktu-waktu berharga dihari ulang tahunnya sebelum berakhir. 



Dua puluh empat tahun, ya

Mungkin bagi sebagian orang di luar sana dua puluh empat merupakan usia dimana goals dalam hidup mulai tercapai. Atau bisa jadi sebagian yang lainnya berpikir bahwa dua puluh empat sudah terlalu tua untuk bersantai dan menikmati hidup dengan melajang sedang yang lain berpikir sebaliknya. Hanna sendiri masih abu-abu dengan target pada usianya yang menginjak hampir seperempat abad. Baru saja menyadari bahwa hampir selama tujuh tahun terakhir ia tak pernah hidup untuk dirinya sendiri. Selalu untuk orang lain. Berkali-kali menatap kaca dan meyakinkan diri “you’re not born to please anyone” namun tetap saja, hati dan pikiran sering tak sejalan pun dengan hidup yang sering berjalan tak sesuai dengan harapan.



Maka, untuk malam ini saja Hanna ingin hidup untuk dirinya sendiri. Hanna yang selama enam tahun terakhir merayakan ulang tahun dalam kesendirian, selalu menangis sambil menatap jalanan penuh salju dengan pikiran penuh akan amarah, kecewa serta kesedihan yang selalu membersamai. Ia ingin untuk tahun ketujuhnya ini merayakan ulang tahun sendiri dalam perasaan bahagia penuh syukur. 



Hanna tidak butuh orang lain. ia cukup dengan dirinya. 

Menjadi balon ulang tahun untuk dirinya sendiri.

Menjadi kue ulang tahun terenak untuk dirinya sendiri.

Menjadi hadiah ulang tahun terbaik untuk dirinya sendiri.


Maka ketika arloji di tangannya menunjukkan pukul 11:59, Hanna mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak perhiasan berisi kalung dengan bandul bentuk kristal salju. Mengambilnya penuh kehati-hatian lantas melingkarkan pada lehernya sendiri sambil berbisik lirih. “Selamat ulang tahun, Hanna si perempuan hebat. Mari hidup lebih baik penuh dengan bahagia dan rasa syukur. selamat bertambah tua satu tahun, selamat ulang tahun”.





Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel" dan dilink ke http://www.gandjelrel.com/


Comments

Popular posts from this blog

TUBES TEKKOM, Pusying tapi bikin Hepi !